Pengaatan hama dan penyakit

Pengamatan hama dan penyakit merupakan salah satu kunci sukses keberhasilan dalam pertanian

Gapoktan Saluyu

Salah satu contoh keberhasilan pemberdayaan petani khususnya dalam kemandirian pengelolaan ekonomi mikro

"The farmer's eye is the best fertilizer."

SL-PTT

Sekolah lapang pengelolaan tanaman terpadu.

BP3K Curugkebar

Balai penyuluhan pertanian, perikaan dan kehutaan kecamatan Curugkembar, Sukabumi.

Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 November 2011

22 Perusahaan TKI di Sukabumi Dibekukan

 Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Sukabumi Jawa Barat membekukan 22 Perusahaan Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS), yang dinilai bermasalah.
Kepala Dinakertrans Kabupatenngirim  Sukabumi, Aam Amar Halim mengatakan, surat rekomendasi pembekuan kegiatan telah disampaikan kepada BNP2TKI.

" Jadi prosesnya barangkali tidak seperti itu backlistnya, kita melaporkan dulu kepada BNP2TKI, BNP2TKI nanti berdasarkan laporan dari kita menentukan backlist atau tidaknya mungkin dari segi seringnya atau pelanggaran dari perusahaan itu. Kita kan cukup menyurati bahwa perusahaan ini seperti ini kan nanti dari kasus perkasus muncul tidak hanya dari dinas tapi dari keluarga TKI yang berangkat."

Kepala Dinakertrans Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat Aam Amar Halim menambahkan, alasan pembekuan puluhan PPTKIS itu akibat mengirim  tenaga kerja ilegal serta melakukan pemalsuan dokumen ketenagakerjaan.
Di Sukabumi saat ini beroperasi lebih dari 150 PPTKIS.
KBR68H

Kasiat Tomat Sebagai Penghasil Anti Oksidan Unik

Para peneliti dari Institute of Molecular and Cell Biology (IBMCP) di Spanyol telah berhasil mengidentifikasi sebuah senyawa anti oksidan pada buah tomat, yaitu resveratrol, dengan potensi 14 kali lebih banyak dibandingkan dengan yang terdapat pada anggur merah. Anti oksidan reveratrol diketahui sebagai zat yang dapat menghambat penuaan.

Hasil penelitian tersebut dipublikasikan di sebuah jurnal ilmiah, Environmental and Experimental Botany, baru-baru ini.

Anti oksidan memiliki banyak manfaat kesehatan, diantaranya mencegah munculnya penyakit jantung koroner dan kanker. Selain itu, tomat juga memiliki kandungan anti oksidan 4.5 kali lebih besar dibandingkan dengan vitamin E dan 10 kali lipat dibandingkan dengan vitamin C.

Senyawa anti oksidan yang terdapat dalam tomat, dihasilkan sebagai respon dari biotic atau abiotic stress. Biotic stress terjadi sebagai akibat dari kerusakan pada tanaman yang disebabkan oleh organisme lain seperti bakteri, virus, jamur, parasit atau serangga.

Resveratrol, yang termasuk ke dalam kelompok senyawa phenol memiliki banyak kasiat, yaitu sebagai pengawet makanan, untuk mencegah penuaan dini dan sebagai bahan tambahan pada produk-produk suplemen.

Jadi mulai hari ini, biasakanlah mengunsumsi buah tomat. Kasiat tomatbegitu besar bagi kesehatan. Selain harganya relatif murah, tomat juga bisa kita peroleh dengan mudah. Selamat mencoba. (thehindu.com)

Senin, 17 Oktober 2011

Dr.Hj. Betty Natalie Fitriatin A., Ir., MP., Kembangkan Bakteri Mikroba Untuk Tingkatkan Produktivitas Lahan Marginal


[Unpad.ac.id, 14/10/2011] Banyak penelitian yang menyebutkan bahwa Indonesia memiliki lahan Ultisol yang cukup luas, sekira 25% dari total luas daratan Indonesia, diantaranya adalah tanah di  Jatinangor, Sumedang yang bewarna merah. Ultisol sendiri merupakan lahan marginal yang memiliki kendala dalam pemanfaatannya, yaitu mempunyai sifat fisik kimia dan biologi yang kurang mendukung pertumbuhan tanaman. Kendala pertumbuhan tanaman ini karena nilai pH dalam tanah yang biasanya masam, serta kandungan unsur hara yang rendah.
Dr.Hj. Betty Natalie Fitriatin A., Ir., MP (Foto: Lydia Okva Anjelia)*
Berangkat dari kenyataan tersebut, dosen Agroteknologi Fakultas Pertanian Unpad Dr.Hj. Betty Natalie Fitriatin A., Ir., MP., mencoba menemukan solusi untuk meningkatkan produktivitas lahan Ultisol tersebut. Sebagai seorang peneliti yang tekun meneliti tentang biologi dan biologi tanah, selama lima tahun terakhir ini, ia fokus meneliti tentang bakteri mikroba dan  mengembangkan pupuk biologi berbahan dasar Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA).
Menurutnya, untuk meningkatkan produktivitas lahan Ultisol perlu pemupukkan ke dalam tanah baik berupa pupuk buatan atau pupuk alam. Pupuk alam mempunyai kelarutan yang rendah sehingga tidak dapat langsung dimanfaatkan oleh tanaman. Sedangkan dengan pemupukan buatan, banyak kendala yang dijumpai salah satunya yaitu efek residu pupuk yang dapat mencemari lingkungan, sehingga pemupukan yang terus menerus akan berdampak tidak baik bagi tanah dan lingkungan.
Untuk mengatasi masalah tersebut maka Dr. Betty meneliti dan menemukan Mikroba Pelarut Fosfat (MPF). “MPF merupakan kelompok mikroba tanah yang mempunyai kemampuan mengekstraksi unsur fosfor (P) dari ikatannya, sehingga dapat melarutkan P yang asalnya tidak tersedia bagi tanaman menjadi tersedia bagi tanaman. Hal ini terjadi karena mikrobatersebut mengeluarkan asam-asam organik yang dapat melarutkan P di dalam tanah,” ungkapnya saat ditemui di ruang e-Learning Unpad Jln. Dipati Ukur no. 46 Bandung, Selasa (11/10) lalu.
Penerima penghargaan Satyalancana Karya Satya X Tahun 2009 ini mengatakan bahwa, mekanisme kerja MPF yang slow realease atau lambat ini dapat menjaga tanaman apabila sudah berada di dalam tanah, karena bakteri mikroba tersebut akan terus berkembang di dalam tanah. Untuk itu, penggunaan MPF selain meningkatkan efisiensi pemupukan dan mengurangi pengunaan pupuk-pupuk kimia juga dapat menghemat biaya.
“Dengan mengunakan MPF pupuk yang ramah lingkungan ini, kita dapat mendegradasi P anorganik, sehingga kita dapat mengurangi penggunaan pupuk hinga 25 persen,” lanjut Dr. Betty.
Dosen yang aktif dalam berbagai organisasi dan asosiasi pertanian ini tidak pernah merasa puas dengan penemuanya tersebut. Pada tahun 2007 ia mendapat dana hibah dari Kementerian Riset dan Teknologi untuk mengembangkan penelitiannya tentang mikroba. Dari dana hibah tersebut Dr. Betty mampu  mengkarakteristik sifat mikroba dari fosfatase.
“Dari penelitian ini saya dapat mengkarakteristik secara biokimia mikroba itu penghasil enzim fosfatase. Dimana mikroba tersebut selain mengeluarkan asam organik, juga menghasilkan enzim fosfatase,” jelasnya.
Mekanisme enzim fosfatase ini mendegradasi P organik, yaitu apabila memberikan pupuk kandang atau kompos pada tanah,  tanaman tidak  langsung dapat menyerap, karena pupuk tersebut dalam bentuk senyawa-senyawa organik. Untuk itu pupuk kandang atau kompos harus didegradasi terlebih dahulu oleh mikroba tersebut.
“Dengan enzim fosfatase, bakteri ini dapat membantu lebih cepat memecah atau mendegradasi senyawa organik yang terkandung dalam pupuk kandang atau kompos didalam tanah. Sehingga lebih cepat dalam meningkatkan ketersediaan P dalam tanah,” lanjut Dr. Betty.
Dari hasil penelitianya tersebut Dr. Betty bersama rekannya dari Laboratorium Bioteknologi Tanah, mengaplikasikan penemuanya tersebut  di Perkebunan Tebu PT Rajawali II Jatitujuh, Majalengka.  Selain itu, mereka  juga bekerja sama mengembangkan dan mengkomersialisasikan pupuk biologi berbahan dasar cendawan mikoriza arbuskular (CMA).
Pengalamannya dalam berorganisasi dan meneliti di bidang bakteri mikroba dan mikoriza ini, menjadikan Dr. Betty sering diundang menjadi narasumber di berbagai seminar tentang pertanian organik dan mikrobiologi baik di dalam maupun luar negeri. Berbagai penghargaan pernah ia raih, dan lebih dari 20 karya ilmiah dan penelitian telah ia publikasikan.
Saat ditanya mengenai suka duka dengan profesinya sekarang, perempuan kelahiran 27 Desember 1968 yang juga menjadi fasilitator di e-Learning Unpad  itu mengemukakan bahwa ia ingin terus meneliti dan hasil penelitiannya diharapkan dapat bermanfaat bagi orang banyak khususnya bagi para petani. Selain bermanfaat bagi petani, penelitiannya juga dapat dipergunakan sebagai bahan ajar bagi mahasiswanya.
“Sebagai dosen kita tidak bisa tidak meneliti.  Ilmu kan berkembang, apabila bahan ajar sesuatu hal yang baru bagi mahasiswa, itu akan jauh lebih menarik. Maka para mahasiswa akan lebih antusias terhadap perkuliahan dengan penemuan-penemuan baru tersebut,” pungkasnya. *

Kamis, 13 Oktober 2011

Indonesia impor kentang dari Cina, petani semakin terpuruk

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Anggota Komisi IV DPR RI Rofi Munawar mengecam kebijakan Kementerian Perdagangan (Kemendag) melakukan importasi berbagai komoditas pertanian, diantaranya impor kentang.

Harga jual kentang di tingkat petani, ujarnya di Jakarta, Rabu, anjlok hingga lima puluh persen akibat gencarnya impor kentang dari China.

Hal ini semakin menunjukan bahwa Kemendag lebih pro liberalisasi pangan dibandingkan mensejahterakan dan meningkatkan produktivitas petani lokal.

"Kebijakan Kemendag memberikan izin terhadap importasi kentang, membuat petani kentang terpuruk dan tidak dapat menikmati harga yang optimum,"katanya.

Impor hortikultura terus terjadi terjadi selama kurun waktu hampir 5 tahun terakhir. Kentang menjadi salah satu komoditas yang ikut serta di impor dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Harga kentang lokal mencapai Rp7000 hingga Rp8000 per kilogram, namun saat ini harga kentang lokal berkisar Rp4000-Rp4500 per kilogram.

Harga kentang anjlok di tingkat petani karena gencarnya impor kentang dari China. Kentang impor tersebut harganya hanya Rp2300?Rp2500 per kilogram. Padahal selama ini kentang menjadi komoditas hortikultura yang banyak menyumbang devisa negara.

"Mendag nampaknya tidak punya solusi lain dalam menstabilkan harga komoditas pertanian, selain dengan impor. Kebijakan perdagangan selalu dihiasi dengan impor,"ujarnya.

Rabu, 12 Oktober 2011

Klinik Tanaman HPT Faperta Unpad Kaji Polemik Hama Beureum

 Perkembangan dan penyebaran hama beureum di kawasan endemik seperti di Jawa Barat kian meluas. Beberapa kabupaten seperti Karawang, Garut dan Indramayu melaporkan adanya serangan hama beureum yang cukup signifikan akhir-akhir ini.

Suasana Kajian Rutin Klinik Tanaman IV “Polemik Hama Beureum”
Untuk membahas mengenai hamabeureum dan sejauh mana dampaknya terhadap produktivitas pertanian di beberapa sentra produksi padi, Klinik Tanaman Hama dan Penyakit Tanaman (HPT) Fakultas Pertanian (Faperta) Unpad menggelar Kajian Rutin Klinik Tanaman IV “Polemik Hama Beureum”. Acara ini digelar di Ruang Sidang Jurusan HPT pada Senin, (10/10) lalu, dengan menghadirkan pembicara seorang ahli dalam hal penyakit tanaman, Prof. Dr. Hersanti, Ir., MP.
Dalam kajian yang dihadiri 35 orang mahasiswa Faperta Unpad ini, dibahas secara mendalam mengenai penyebab dan gejala hama beureum, serta mengenai penyebaran hingga rekomendasi pengendalian yang bisa dilakukan. Prof Hersanti menjelaskan bahwa penyebab hama beureum ini sebenarnya bukanlah hama melainkan virus (Rice Tungro Baciliform Virus dan Rice Tungro Spherical Virus). Kedua virus ini ternyata bekerja secara sinergis dengan bantuan vektor untuk menimbulkan gejala yang kita sebut sebagai hama beureum.
Prof. Hersanti mengungkapkan bahwa penyebaran hama beureum ini begitu pesat mengingat biotipe dari vektor penyebabnya mudah sekali berubah susunan genetiknya. Penyebarannya didukung pula oleh lingkungan yang mendukung kehidupan wereng hijau.
Untuk pengendaliannya, beberapa upaya ditawarkan seperti penggunaan varietas unggul. “Beberapa pengendalian telah dicoba termasuk penggunaan varietas tahan wereng. Namun  hingga saat ini, sebenarnya tidak ada varietas yang tahan wereng, yang ada hanya varietas yang susceptibleseperti impair dan IR,” ujar Prof. Hersanti.
Pengendalian lain yang ditawarkan adalah pembersihan gulma sebagai inang alternatif, pemotongan tunggul padi hingga kepermukaan tanah, dan melakukan tanam serempak. Selain itu, dilakukan juga pengendalian kimiawi sintetis sebagai jalan terakhir, jika serangan hama beureum sudah parah.
Kajian Rutin Klintan ini merupakan kegiatan bulanan yang diselenggarakan Klinik Tanaman HPT Faperta Unpad untuk menanggapi dan mengulas isu-isu yang berkembang di bidang pertanian, khususnya bidang perlindungan tanaman, agar dapat didiskusikan bagaimana jalan keluar yang tepat untuk maslah atau isu tersebut. *

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites